IP #121 "Menari dalam Kesyahduan"
pada Monday, 13 June 2016
Terdengarlah lantunan yang begitu ritmis. Memecah kesepian dan juga kesendirian. Seolah ingin mengajakku menari bersama dengannya.
Pelan tapi pasti, seolah bibir ini tak mau berhenti. An-Nisa, seolah terus menggoda dan mengajakku untuk memahaminya.
Lembar demi lembar, sahut bersahutan tiap orang yang membacanya. Kampus yang dulu begitu sepi, kali ini ramai akan kalam-kalam suci.
Alam-alam pun seolah tunduk, mendengarkan dengan seksama. Tenangnya angin, bersihnya cakrawala, hewan-hewan dan tumbuhan yang seolah saling bercengkrama.
Namun tak dapat dipungkiri, ada satu yang seolah tiada habis kegiatanya. Itulah manusia. Berbagai aktivitas mulai dilakukannya. Tapi, tapi tahukah mereka hakikat melakukannya? Ataukah itu laksana fatamorgana, seolah kelihatan dilakukan tetapi pada dasarnya ia pun tidak ada.
Tiba-tiba berbagai pesan tadi siang mulai terdengungkan. Tentunya dari orang yang berpengalaman, bahwa hidup laksana orang yang membuat sayuran.
Nyamuk-nyamuk bertebaran. Bintang-bintang mulai bermunculan. Semakin malam, seolah penuh dengan kesyahduan. Ditengah-tengah gemerlapnya kehidupan, ternyata masih ada banyak mutiara yang terpendam dan belum termunculkan.
Malam ke-8 Ramadhan.
Masjid Ulul Azmi Kampus C UNAIR.
Masjid Ulul Azmi Kampus C UNAIR.