IBX5A4B886D911B8 Sunali Agus Eko Purnomo

My Life Journey - Sunali Agus

Showing posts with label Sunali Agus Eko Purnomo. Show all posts
Showing posts with label Sunali Agus Eko Purnomo. Show all posts
Cerita Cinta dari Kampus Semesta, Universitas Airlangga Surabaya

Cerita Cinta dari Kampus Semesta, Universitas Airlangga Surabaya


 



Memang benar bermimpi belum tentu menjadikan orang besar. Namun, ketauhilah semua orang-orang besar pasti memiliki mimpi.”

“Benarkah ini kampusku selama kurang lebih 4 tahun kedepan?”, begitulah pertama kali yang terbersit dalam hati ketika pertama kali menginjakkan kaki di Universitas Airlangga bersama teman-teman dari satu SMA yaitu SMA Negeri 1 Rengel, Tuban.

Terlihatlah gedung yang mewah, bertingkat dengan suasana alam begitu asri, yang menyejukkan disetiap mata yang memandang. Apalagi terhadap pandangan anak desa, yang tidak pernah pergi ke kota, maka itulah yang selalu dirasa. Lebih lengkapnya bisa dicek diwebsite www.unair.ac.id, terkait jurusan hingga beragam fasilitas yang telah disediakan.

Jujur kawan, saya sangat bersyukur bisa melanjutkan menuntut ilmu di perguruan tinggi, dan saya waktu itu yaitu tahun 2012 merupakan satu-satunya anak yang berasal dari desa saya yang bisa kuliah. Desaku bernama Desa Ngrayung terletak di Kecamatan Plumpang, pelosok kabupaten Tuban.
Setelah melalui berbagai tes dan pengumpulan berkas-berkas di Universitas Airlangga, ternyata ada sesi pengarahan dan motivasi dari pihak Rektorat dan Kemahasiswaan UNAIR (Universitas Airlangga) bagi seluruh mahasiswa yang mendapat beasisswa Bidikmisi. Beasiswa Bidikmisi ini diperuntukkan bagi anak-anak yang berasal dari keluarga yang kurang/ tidak mampu, tetapi berprestasi di sekolahnya.

Inilah waktu awal, ketika pikiranku terbuka untuk pertama kalinya bahwa anak desa, anak-anak yang kurang mampu bisa berprestasi, membanggakan orang tua dan tentunya bisa mengharumkan negeri serta berguna bagi bangsa dan juga agama.

“Anda semua ini, haruslah sangat bersyukur. Karena sekarang sudah banyak beasiswa untuk menunjang pendidikan di perguruan tinggi. Salah satunya yang baru-baru ini yaitu beasiswa Bidikmisi dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Jujur, saya juga dulu berasal dari keluarga yang tidak mampu. Karena keterbatasan dana, maka saya mencari semua data orang terkaya yang ada di Indonesia. Setelah itu, saya kirimi pesan satu-satu yang berisi kondisi yang saya alami, besarnya biaya pendidikan di perguruan tinggi. Dengan harapan, supaya ada yang tergugah dan membantu membiayai pendidikan saya.

Satu hal yang membuatku cukup terkejut bahwa tidak ada satupun surat saya yang mendapat balasan. Namun, dimasa-masa putus asa itulah ada seseorang yang memanggil saya untuk bertemu di kantornya.

“Gak usah malu, duduk saja. Tenang, walaupun saya nasrani dan beda agama dengan kamu, saya mau membantu kamu. Karena dalam membantu orang, tidaklah harus melihat-lihat ras, suku, agama ataupun yang lain. Karena pada dasarnya, manusia saling membutuhkan dan memerlukan pertolongan satu sama lain.”

Itulah, yang selalu aku ingat sampai saat ini. Semoga semua kebaikan yang telah aku lakukan, juga mengalir kepada beliau. Karena tanpanya saya tidak akan bisa seperti ini”, begitulah ungkap salah seorang guru besar Universitas Airlangga, yang menjadi pembicara saat itu.

Hari demi hari berlalu, kadang rindu ingin segera pulang dan bertemu orang tua di kampung halaman. Namun, kadang juga terlalu asyik dengan padatnya aktivitas kegiatan organisasi kemahasiswaan dan rentetan tugas serta bertumpuk laporang praktikum yang harus kuselesaikan. Tiada sedikitpun rasa menyesal, karena ku yakin inilah bekal untuk hidupku di masa yang akan datang. Inilah masa awal, masa sebelum masuk beneran kedalam kampus kehidupan. Semua akan jadi pembelajaran dan bekal menambah pengalaman serta luasnya jaringan pertemanan.

Masih teringat betul waktu itu, saat masa SMA dan masuk kuliah pertama. Saya sangat pemalu dan pendiam sekali. Tapi tiba-tiba saja, saya diminta menjadi moderator kajian di organisasi kerohanian islam di Fakultas Sains dan Teknologi (FST) yaitu JIMM (Jama’ah Intelektual Mahasiswa Muslim) oleh ketua departemen saat itu dan bahkan menjadi PJ (Penanggung Jawab) terhadap berjalannya kajian yang dilakukan setiap sore sepekan sekali yang ada di FST UNAIR.

Awalnya memang grogi, keringat bercucuran tiada henti, dan merasa malu setengah mati. Namun saat ini, baru kusadari manfaatnya bahwa saya mulai berani bicara didepan umum, bahkan sekarang lebih sering diminta buat memberi motivasi dan mengisi materi di beberapa organisasi kemahasiswaan (Ormawa).

Selain itu, semakin bertambah semester tiba-tiba di tahun ketiga diamanahi teman-teman menjadi ketua BLM (Badan Legislatif Mahasiswa) FST yang sekaligus menjadi anggota DLM (Dewan Legislatif Mahasiswa) dan masuk di ormawa tertinggi di UNAIR bersama ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) serta ketua dan sekretaris BLM dari seluruh fakultas dan perwakilan Forkom UKM UNAIR (Forum Komunikasi Unit Kegiatan Mahasiswa).

Saat-saat itu pula, di FST lagi sedang ribetnya pembentukan Himapro (Himpunan Mahasiswa Prodi) yang mulanya dari Himadept (Himpunan Mahasiswa Departemen), serta di tingkat universitas harus mempersiapkan pemilihan ketua dan wakil ketua Bem UNAIR. Akhirnya, dari sini ku dapat pelajaran yang begitu berharga yaitu mengenai manajemen diri dan waktu, membangun jaringan dan terus memberikan kontribusi terbaik untuk fakultas dan universitas.

Mulai dari jarang tidur hingga pagi menjelang shubuh, karena harus rapat dan menyusun agenda kerja. Banyak fitnah dan kata-kata yang tak enak didengar telinga, dari mereka yang tidak suka. Mengadvokasi, dan menampung segala aspirasi mahasiswa ke pihak jajaran dekanat hingga rektorat. Dan beragam hal lainnya yang cukup menyibukkan, apalagi saat itu pula masuk di program pembinaan di beasiswa Rumah Kepemimpinan PPSDMS Nurul Fikri Regional 4 Surabaya angkatan 7. Satu hal yang menjadi harapan, semoga semua menjadi pembelajaran, dan pendewasaan di masa yang akan datang.

Berikut sedikit puisi yang sempat kutuliskan 15 menit menjelang serah terima jabatan pada ketua Ormawa FST yang baru periode 2016/2017. Puisi tersebut kuberi judul “Denganmu Aku Belajar.” Lebih lengkapnya bisa juga dilihat di blog saya yaitu http://sunaliagus.blogspot.com

Denganmu Aku Belajar

Banyak orang berkata, engkau menyibukkan.
Banyak pula menyita waktu, pemikiran dan pengorbanan.
Namun, darimu aku belajar,
Belajar apa itu arti kebersamaan, kekeluargaan dan apa itu perjuangan.
Namun, darimu pula aku belajar,
Belajar apa itu kekecewaan, kesabaran dan juga keihklasan.

Ya, ketika semua sedang sibuk belajar menyelesaikan tugas, UTS dan UAS,
Namun, kita malah sibuk menyelesaikan masalah yang harus segera dibahas.
Ketika yang lain sudah pulang, berkumpul dan bercanda ria dengan keluarga,
Namun, kita malah sibuk menyusun dan menyelesaikan program kerja.

Ya, ketika aku meminta kebijaksanaan,
Tuhan malah memberiku permasalahan, yang harus segera kuselesaikan.
Ketika aku meminta rasa kasih sayang,
Tuhan pun, memberiku orang-orang yang membutuhkan dan harus diperhatikan.
Akhirnya, aku menyadari,
Bahwa, Tuhan bukan memberi apa yang aku inginkan,
Tetapi memberi apa yang aku butuhkan.

Satu hal yang ingin kusampaikan,
Ketika hidup penuh dengan pengabdian dan pelayanan,
Maka yakinlah, bahwa hidupmu akan segera langsung dilayani oleh Tuhan.

Hidup Mahasiswa !!!
Hidup Rakyat Indonesia !!!

Selamat berjuang kawan, semoga amanah dan tanggung jawab terhadap apa yang akan engkau lakukan. Mohon maaf bila ada kesalahan, selama kepengurusan kemarin dan terimakasih atas partisipasinya.
Selain berorganisasi, ku coba untuk mandiri dan sudah ada niatan dalam hati sejak semester ke-2 bahwasanya saya tidak akan minta lagi uang kepada orang tua. Karena aku pun sadar, orang tua dalam memenuhi kebutuhannya saja terkadang harus hutang pada tetangga. Sejak saat itu, aku mulai berwirausaha dari makanan seperti Mamie Rulut (Makanan Ringan Mie Rumput Laut) yang kebetulan mendapat bantuan dana dari PKM-K (Program Kreativitas Mahasiswa – Kewirausahaan).
Menjelang semester 5 dan 6, ada tawaran proyek dengan dosen untuk membuat pupuk hayati atau biofertilizer. Alhamdulillah, ilmu yang selama ini dipelajari akhirnya bisa teraplikasikan yaitu di bidang mikrobiologi terapan. Akhirnya, agar manfaatnya lebih luas lagi maka saya usulkan di PKM-M (pengabdian masyarakat) yaitu di desa saya, desa Ngrayung, kecamatan Plumpang, kabupaten Tuban, Jawa Timur. Selain itu, juga saya juga usulkan di Program Mahasiswa Wirausaha, dan alhamdulillah lolos kedua-duanya. Inilah, pengalaman pertama kalinya bagi saya untuk bersosialisasi, berkumpul dan merasakan manis pahit penderitaan para petani di negeri ini. Besar harapan, semoga kedepan ada lebih banyak perbaikan di bidang pertanian, sehingga hidup mereka bisa lebih sejahtera.

 Diawal tahun 2016, tepat saat saya berada di semester 7. Alhamdulillah, saya terpilih menjadi Mawapres (Mahasiswa Berprestasi) 2 FST UNAIR angkatan 2012. Selain itu juga terpilih menjadi delegasi pemuda muslim dalam acara AMSS (Asean Moslem Student Summit) di Universitas Selangor Malaysia.

Diakhir perkuliahan, tepat saat semester 8 sebelum wisuda. Alhamdulillah, bisa menyelesaikan penulisan 5 buku yaitu 2 buku solo dan 3 buku antologi bersama teman-teman.


Mungkin inilah, pengalaman yang menjadi jejak-jejak yang tak akan terlupakan dalam hidupku. Oase laksana mentari pagi, bagi anak desa yang mencoba meraih mimpi. Bergelayut pelangi-pelangi di senja hari, seolah memberi inspirasi yang menggugah hati. Perjalanan ini pun akan terus berlanjut kawan. Jika Tuhan mengizinkan, aku pun berdo’a semoga kita nanti bisa bertemu dalam kehidupan nyata dengan sukses dan mimpi kita masing-masing. Mimpi membangun negeri dan berguna bagi bangsa.
Inilah ceritaku, pengalaman yang begitu menarik dan menyenangkan di kampus semesta, Universitas Airlangga Surabaya. Semoga inilah langkah awal dari mimpi-mimpiku di masa yang akan datang.

Universitas Airlangga !!!

Excellent with Morallity !!!

Ini ceritaku, mana ceritamu??? Monggo yang berminat bisa turut ikutan lomba Fun Experience with UNAIR. Info selengkapnya cek http://bpp.unair.ac.id/ketentuanlomba/


Mari bersilaturrahim, Penulis (Sunali Agus Eko Purnomo) dapat dihubungi di:
HP/ WA : +6289678370363
ID Line : sunali25
FB : https://id-id.facebook.com/sunali.agus.313
Twitter : https://twitter.com/sunali_agus
Instagram : https://www.instagram.com/sunali_agus/
Email : sunali.agus313@gmail.com
Ask FM : ask.fm/sunaliagus
PROLOG BUKU "CAHAYA SEJATI ataukah CAHAYA SEMU"

PROLOG BUKU "CAHAYA SEJATI ataukah CAHAYA SEMU"



Prosedur Pemesanan:
Harga : IDR 44.000 + Ongkos Kirim ke Tempat Tujuan
Format Pemesanan:
Ketik: Nama_Alamat Lengkap (Beserta Kode Pos)_Jumlah Buku
Kirim: Whatsapp/ SMS ke +6287809117417

Tebal buku : 210 hal
ISBN : 978-602-74077-1
Published by: Sinar Gamedia

Sudah seharusnya cahaya itu mendatangi dan menerangi kegelapan. Bukan malah membenci, memaki dan menjauhi kegelapan.

Banyak yang seolah merasa bahagia. Banyak yang seolah mendapat keuntungan yang tiada tara. Seolah kejaiaban demi keajaiban selalu datang menghampirinya. Seolah hidup melewati jalan terang, karena adanya cahaya sejati yang menemani. Namun setelah dijalani. Setelah dilakoni. Cahaya itu hilang, dan menjadi cahaya semu. Yang ada hanyalah kegelapan. Tak tahu apa yang harus dilakukan. Tak tahu apa yang menjadi kesalahan dan penyebab kegagalan. Akhirnya yang ada hanyalah penyesalan, kekecewaan, dan kesedihan yang begitu mendalam.

Ingin rasanya menyalahkan segala keadaan. Bahkan kenapa Tuhan selalu mengecewakan? Tak pernah memberi kelayakan dan kebaikan seperti yang telah diterima oleh kebanyakan orang. Disinilah ujian kesabaran dan kesyukuran yang diperlukan.

Laksana menjahit baju. Menyulam satu benang demi satu benag, namun pada akhirnya tidak menjadi kain dan baju yang seperti diharapkan. Apakah kita akan memisuhi, memusuhi bahkan tidak menghargai apa yang telah dilakukan diri sejak awal? Apapun yang dihasilkan, entah baik atau tidak. Baju itulah hasilnya. Karenanya berhasil atau tidak, itu bukanlah urusan kita. Tugas kita hanyalah melakukan dengan sungguh-sungguh. Tuhanlah penentu hasilnya. Disinilah ilmu tawakkal diamalkan.

Itulah beragam corak kehidupan. Terkadang menyenangkan. Terkadang pula sering menyusahkan dan menyedihkan. Namun hanyalah Engkau Tuhan, yang mengerti segala keadaan. Mengerti segala keinginan. Mengerti segala apa yang menjadi permasalahan.

Tuhan, hanya kepada-Mu segalanya kami curahkan. Curahan penyesalan, kekecewaan, permasalahan. Curahan keinginan, mimpi dan harapan. Curahan begitu banyak dosa dan kesalahan yang telah dilakukan. Curahan begitu sedikitnya amal kebaikan yang telah terkerjakan.

Ya Allah, perbaikilah kehidupan agama kami, yang merupakan benteng bagi seluruh urusan kami. Perbaikilah segala urusan dunia kami, sebagai tempat kehidupan kami. Perbaikilah akhirat kami, sebagai tempat kembali kami.
     
Ya Allah, jadikanlah hidup ini sebagai lahan upaya kami untuk menambah segala kebaikan dan jadikan mati kami sebagai titik henti dari segala keburukan. Ya Allah, jadikan umur terbaik hamba di penghujungnya. Jadikan amal terbaik di penutupnya dan jadikan hari-hari hamba menjadi hari terbaik dalam melakukan segala kegiatan.

Ya Allah, anugerahkanlah untuk kami rasa takut kepada-Mu, yang membatasi antara kami dengan maksiat dan keburukan. Anugerahkanlah ketaatan kami kepada-Mu, sebagai bekal yang menyampaikan kami ke surga-Mu. Anugerahkanlah keyakinan kepada-Mu, yang akan menyebabkan ringannya bagi kami segala musibah dan cobaan yang menimpa di dunia ini.

Ya Allah, jangan pernah Engkau tinggalkan dosa, melainkan Engkau ampuni. Tidak ada kegalauan, kecuali Engkau berikan jalan keluar.Tidak ada kebutuhan di dunia dan akhirat, melainkan Engkau penuhi.

Semoga tidak lagi berujung pada penyesalan dan kesedihan yang selalu dihasilkan. Karena Engkau (Tuhan), penentu segala nasib dan takdir kehidupan. Semoga kebahagiaan berbalut ketenangan dan kepuasan itulah yang mulai sekarang kami rasakan.
IP #18 "Mulai Mengembangkan Bisnis Pupuk"

IP #18 "Mulai Mengembangkan Bisnis Pupuk"

Berikanlah pelayanan dan nilai terbaik pada usahamu untuk kebermanfaatan, maka kau akan menemui uang yang mencarimu dan bukan lagi kau yang mencari uang. Begitulah yang tertanam dalam diri ini.
Ya, Mohon maaf kemarin masih belum bisa menerima kerjasama dengan pengusaha perkebunan Kelapa Sawit di Papua. Bukan tak ingin berwirausaha tapi lebih ingin mengabdi dan berbagi ke seluruh pelosok negeri.
Alhamdulillah sudah mulai tersebar produk ini sambil terus memberikan pelatihan serta penyuluhan.
Tak tahu mengapa, tiba-tiba ada yg mengirim foto yg semua gagasan mengenai Pupuk Hayati ini termuat dalam Media Massa. Ya mungkin, pas kemarin diwawancarai kayake.
Sekali lagi bukan sok-sokan, pamer, riya', sum'ah ataupun yg lain tapi tiada lain supaya bisa memberi inspirasi yg lain untuk juga turut berkontribusi.
Mohon selalu diingatkan saja secara langsung kawan, bila ada kesalahan walau terkadang itu menyakitkan daripada dibicarakan/ dirasani dibelakang krn sungguh gak uuenak ya ternyata dirasani itu (haha),..
Semoga kedepan ada perbaikan untuk negeriku tercinta ini, Indonesia khususnya di bid. Pertanian sehingga tak ada lagi yg kelaparan, kurang gizi, hingga kemiskinan di negeri ini.


Buku "Penduduk Langit Pun Mengagumimu"

Buku "Penduduk Langit Pun Mengagumimu"

Alhamdulillah, menjadi juara 2 Lomba Cerpen "Perjuangan Malaikat Kita" dan dibukukan serta alhamdulillahnya lagi judul tulisan juga dijadikan judul buku yaitu "Penduduk Langit pun Mengagumimu."



“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan yang lemah bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun.”
-Q.S. Al-Luqman : 14-

Sungguh inilah sedikit keajaiaban yang dirasakan betul oleh seorang pemuda desa melalui kasih sayang orang tuanya. Di awal kehidupannya, sejak kecil sekitar umur 2 tahun, ia telah ditinggal meninggal oleh ayahnya, hingga saat itu ia harus hidup dengan ibunya dan adiknya saja, disebabkan karena tidak ada biaya untuk hidup di kota, maka pindahlah keluarga pemuda tersebut ke rumah nenek sang ibu. Tak lama kemudian, sang ibu yang harus mencari nafkah untuk menghidupi keluarga. Pekerjaan yang didapat pun juga tak seberapa baik yaitu hanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga dari rumah yang satu ke rumah yang lain, hingga sang nenek setiap siang harus terpaksa mengantar adik dari pemuda tersebut ke ibunya hanya untuk menyusukannya.

Seiring bertambahnya usia, sekitar 7 tahunan maka pemuda tersebut memulai sekolahnya yang pertama di SDN Ngrayung 01, bersama itu pula alhamdulillah sang ibu diterima di perusahaan Sampoerna walau hanya sebagai buruh bersih-bersih (karena hanya berijazah SD) tapi tak mengapa karena pekerjaan itu sudah tetap dan tidak harus pindah-pindah rumah lagi dalam mencari kerja sebagai buruh rumah tangga.

Diawal sekolahnya, ia sering dimarahi gurunya hingga pulang sore gara-gara tidak bisa membaca, menulis dan menghitung (akibat tidak pernah TK), hingga titik kulminasinya sang guru pun menitipkan pesan ke sang ibu dari pemuda tersebut melalui tetangganya (yang berjualan di sekolah pemuda tersebut), pesan tersebut berisi, “Bu, Sunali ini kok bodoh sekali ya. Mau tidak saya naikkan kasihan, tapi kalau dinaikkan kok tidak bisa apa-apa”. Lalu sang ibu tertegun mendapat pesan dari sang guru, hingga suatu sore setelah pulang kerja, tanpa istirahat sang ibu pun langsung mengajarinya sang anak dari menulis, membaca hingga berhitung dengan rasa penuh kasih sayang sambil menahan air mata.

Lalu keajaiban pun terjadi pada pemuda tersebut, setiap ada kenaikan kelas sang anak selalu mendapat peringkat yang lebih baik daripada sebelumnya yaitu mulai dari juara 8, 6, 4, 3, 2 hingga diakhir kelas 6 saat perpisahan kelas diumumkan yang menjadi juara dan diundangnya semua orang tua dari murid untuk menyaksikan perpisahan. Di saat itu pula sang ibu, izin ke perusahaan untuk mengantarkan pemuda tersebut, karena pada biasanya yang menemani pemuda tersebut di setiap kenaikan kelas dari kelas 1 sampai kelas 5 yaitu neneknya dan dengan karena sang nenek pun sudah sangat tua, maka sang ibulah yang menemaninya saat kelas 6 ini. Tak lama kemudian setelah melewati beberapa sesi penampilan dan dipanggilnya juara satu-satu dari kelas 1 sampai kelas 5 hingga saatnya pengumuman juara kelas 6 dan juara umum nilai UKM (Ujian Kendali Mutu).

Saat-saat mendebarkan mulai terlihat, setiap orang yang menjadi wali murid pun berdo’a dan pasrah serta penuh harap supaya anaknya yang menjadi juara, hingga tersebutlah nama pemuda tersebut, Sunali Agus Eko Purnomo bin Tardjuk sebagai juara 1 kelas 6 sekaligus nilai terbaik UKM (sekarang nilai UNAS) tahun 2006. Sang ibu dan pemuda tersebut pun naik ke panggung tersebut dengan penuh suka cita yang diiringi oleh tepuk tangan semua wali murid dan semua guru yang ada di sekolah tersebut, seolah-olah mereka kagum kepada sang ibu dan pemuda tersebut, karena tak ada yang mendidik atau ikut les kok bisa seperti itu bahkan dulunya sangat bodoh hingga mau dikeluarkan dari sekolahnya.

Di akhir acara perpisahan tersebut, tiba-tiba sang guru yang pernah berkirim pesan kepada sang ibu menghampiri mereka berdua, dan berkata, “Aku jadi sangat malu bu dengan sunali, dulu begitu sangat bodoh tak bisa menulis, membaca, apalagi berhitung, sekarang kok malah menjadi yang terbaik di sekolah, saya mohon maaf ya bu”.

Itulah betapa hebatnya kasih sayang seorang ibu, yang mengajar dengan penuh ketulusan dan keikhlasan pada anaknya walau terlihat kecil tapi dampaknya luar biasa, seperti yang pernah terjadi juga pada tokoh-tokoh besar dunia yang namanya terkenang sepanjang sejarah kehidupan manusia seperti Albert Einstein ataupun Thomas alfa Edison yang waktu sekolah, mereka dihina-hina dan dipandang sebelah mata hingga ia dianggap sebagai anak gila yang tak layak masuk sekolah dan sang gurupun menyurati kepada sang ibu, bahwa anaknya sangat bodoh tak mampu untuk bersekolah, hingga mereka dikeluarkan dari sekolahnya. Menanggapi hal tersebut, sang ibupun berkat, “Kalau sekolah tak mampu mendidik anakku, maka aku sendirilah yang akan mendidiknya. Lalu sang ibu dengan tekad bulat disertai rasa kasih sayang dan ikhlas terus mendidik dan menyemangatinya. Kemudian apa yang terjadi, dunia pun terkagum-kagum dibuat oleh mereka, hingga nama mereka terkenang sepanjang sejarah bahkan sering dijadikan untuk memotivasi para guru-guru dalam mendidik muridnya.

Inilah salah satu yang selalu mengingatkan pemuda tersbut untuk selalu berbakti dan membahagiakan orang tuanya, karena ingatlah, “Seberapa besar apapun pengabdianmu pada orang tuamu, sungguh itu tidak ada apa-apanya bahkan walau hanya dibanding dengan satu teriakan saja ibumu ketika melahirkanmu”. Tak ada prestasi atau kesuksesan apapun, kecuali ia niatkan pula untuk membahagiakan orang tuanya, karena ia ingat betul nasehat gurunya, “Sungguh ketika kau terus berniat untuk berbakti dan membahagiakan kedua orang tuamu, maka Allah akan selalu mempermudah jalanmu”. Begitulah ridho Tuhan tergantung pada ridho orang tua, bahkan dalam hadist telah disebutkan bahwa, “Surga berada dibawah telapak kaki ibu”.

Ia pun yakin betul, hakikat seorang anak dalam berbakti kepada kedua orang tuanya yaitu ketika sang anak terus melakukan amal sholeh, begitupun sebaliknya hakikat seorang anak durhaka kepada kedua orang tuanya yaitu ketika sang anak terus melakukan kemaksiatan. Setiap apapun yang dilakukan oleh sang anak itu pasti mengalir pada orang tuanya baik dosa ataupun pahala. Begitulah agama mengajarkan, “Sungguh salah satu amalan yang tiada pernah putus yaitu memiliki anak yang sholeh”. Begitulah yang selalu diyakini dan dipegang erat oleh pemuda itu dalam kehidupannya. Saat ini pemuda tersebut sedang menempuh semester 6 di Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga. Disamping itu saat ini ia menjadi peserta PPSDMS Nurul Fikri angkatan 7 regional 4 Surabaya dan menjadi Ketua Badan Legislatif Mahasiswa (BLM FST UNAIR) yang sekaligus menjadi anggota dalam MPM dan DLM UNAIR. Pemuda tersebut bernama Sunali Agus Eko Purnomo.

Contact form

Name

Email *

Message *