IBX5A4B886D911B8 Para Pencari Cahaya Kehidupan

My Life Journey - Sunali Agus

Showing posts with label Para Pencari Cahaya Kehidupan. Show all posts
Showing posts with label Para Pencari Cahaya Kehidupan. Show all posts
Hikmah Bunga dan Duri Mawar

Hikmah Bunga dan Duri Mawar


Ketika kau melihat tumbuhan mawar, apakah yang pertama kali kau lihat. Apakah bunganya ataukah durinya?
Jangan terlena dibalik indahnya bunga ada duri tajam yang menyertai. Namun jangan pula terlupa hanya memandang durinya, karena bersamanya ada bunga yang indah menawan mata.
Tahukah kamu apa maksudnya ???
Begitulah, ketika kau melihat apapun itu. Baik masalah, baik suatu musibah, ataupun hingga hajat dan segala hal yang terjadi dan menimpa begitu saja. Maka cobalah lihat bunga mawarnya, bukan hanya melihat betapa tajam durinya. 
Akhirnya dirimu pun bisa sedikit bersyukur dan teguh dalam kesabaran hingga kau ikhlas dan istiqomah dalam perjuangan.
IP #153 "Sang Lebah Jatuh Bangun Mencari Bunga Sejati."

IP #153 "Sang Lebah Jatuh Bangun Mencari Bunga Sejati."


Berbagai setan dan nafsu terus menghalangi. Walau terkadang terjebak dalam jurang itu, bersyukurlah ada sedikit cahaya yang membimbing lagi jalannya.
Akankah sang lebah berhasil menemukan bunga itu? Ataukah mati dan berhenti dalam jurang itu?
Begitulah, bagaimana besarnya godaan waktu remaja seseorang.
Terkadang tak bisa membedakan mana nafsu dan mana cinta. Seseorang berkata, "Cinta bisa menimbulkan nafsu, tetapi cinta bukan nafsu."
Ada yang segera menyegarakan, agar tidak terjebak dalam jurang itu. Ada pula yang terus menahan, walau terkadang sering terjatuh dalam jurang itu. Namun, ada juga yang sejak awal berniat masuk dalam jurang itu.
Berbagai fasilitas dibalut keinginan dan kesempatan, seolah menjadi penyebab utama suatu keburukan dan kemaksiatan.
Salahkah sang lebah, jika terkadang ia menagis menyesali dosa-dosa yang telah dilakukannya? Bukankah sudah tabiat makhluk bahwa salah dan lupa itu sifatnya.
Namun, apakah itu yang dinamakan pertaubatan? Ketika dosa-dosa terus diulang-ulang. Tapi, bukankah sang Nabi telah menyatakan bahwa Sang Khaliq Maha Pengampun dan tak akan pernah lelah dalam memaafkan dan mengampuni.
Begitulah, sang lebah terus berusaha mencari bunga sejati. Walau keindahan dunia sering membuat hati iri. Tapi siapakah yang tahu masalah hati? Selain dirinya dan Illahi.
"Ketika diri telah tertunduk menuruti nafsu, ketika diri telah terpengaruh oleh bujuk rayu sang penggoda. Maka saat itu pulalah hilang akal sehatnya, hilang dari dzikir dan mengingat Tuhan, dan keburukan serta kemaksiatan seolah-olah menjadi indah dan mengasyikkan ketika dilakukan. Namun kau tahu ujungnya? Yang ada hanya penyesalan, kekecewaan, dan kesedihan yang begitu mendalam."
IP #136 "Pengabdian atau Berpenghasilan."

IP #136 "Pengabdian atau Berpenghasilan."


Banyak yg bercanda dan tertawa, menyembunyikan kesedihan yang tersimpan di dalam dada.
Banyak pula yang memberi, menutupi kekurangan yang dia alami.
Banyak yang terus mengajar, walau sebenarnya dirinyalah yang terus belajar.
Banyak pula yang melakukan perubahan dan menunjukkan kelebihan walaupun diri kaya akan kelemahan.
Itukah mereka? Mereka Para Pencari Cahaya Kehidupan. Terus berjuang mewujudkan impian dan kebermanfaatan walaupun penuh tantangan dan sering dihinggapi kelelahan.
Entahlah beberapa hari ini dikejutkan dengan berbagai pemandangan yang menunjukkan perjuangan dalam pengabdian.
Tiap pagi, seorang bapak memikul kerupuk-kerupuk yang telah dibungkusnya. Tapi ada sedikit yang aneh, yaitu beliau selalu sholat shubuh berjama'ah sebelum melakukan aktivitas kegiatan.
Ada pula, tukang becak yang selalu datang sebelum adzan berkumandang. Bahkan tak jarang, sang Muadzin layak disandangnya karena kekhasan suaranya saat mengumandangkan adzan.
Terlihat pula, seorang tambal ban yang selalu membaca salah satu surat dalam Al-Qur'an setelah sholat ashar.
Ada juga anak muda yang menggembalakan kambing, tapi puasa sunnah tak pernah ditinggalkan dan bahkan selalu mengajar Al-Quran pada anak-anak tiap sore.
Begitupun dengan seorang pemilik warung kopi, bukan hanya menjadi tempat cangkrukan tapi menjadikannya tempat berbagi kebaikan.
Dan ternyata masih begitu banyak kejadian yang seolah membuat diri malu. Karena masih banyak yang tak mampu dilakukan.
Walau hidup mereka sederhana, bahkan pekerjaannya sering disepelekan dan dipandang sebelah mata. Tapi begitu tenang jiwanya dan ternyata tercukupi segala kebutuhan keluarganya.
Ya Allah, Kapankah aku bisa menjadi seperti mereka? Minimal memberi manfaat bagi keluarga, sanak kerabat dan orang-orang yang disekitar.
Entahlah kedepan, mau memilih pekerjaan pengabdian (seperti guru, penulis, motivator, trainer, relawan, dll) ataukah pekerjaan yang berpenghasilan (pengusaha, manager, pegawai perusahaan atau perkantoran, dll)?

Contact form

Name

Email *

Message *